Halaman

Kamis, 19 Januari 2012

April, TDL (Juga) Naik 10 Persen?

BANDUNG, (PRLM).-Masyarakat Indonesia harus kembali mengencangkan ikat pinggang. Selain pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, rencananya pada bulan April pemerintah juga akan menaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10 persen.
Hal itu dibenarkan Anggota Komisi VI-DPR Bambang Wauryanto saat berkunjung ke Semarang. Dia mengaku sudah mendengar perihal rencana kenaikan TDL itu, namun DPR belum menyetujuinya.
"Saya sudah lihat suratnya, tapi kalau akhirnya tidak jadi sehabis saya sampaikan ke media ya juga tidak tahu loh," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Djarman membenarkan adanya rencana kenaikan TDL 10 persen pada 2012. Namun, ia tidak menyebutkan secara pasti tanggal atau bulan pelaksanaan rencana tersebut.
"APBN 2012 sudah mengansumsikan kenaikan tarif 10 persen. Kajiannya sudah jadi, sudah diserahkan kepada Sekjen, dan tinggal diajukan ke DPR," ujarnya.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, menurut Djarman, kenaikan TDL 10% tahun ini tidak akan berdampak signifikan bagi pelanggan golongan 450 VA ke atas. Menurut dia, saat ini 19,6 juta dari 40 juta pelanggan rumah tangga berlangganan kapasitas 450 VA.
Dengan kenaikan TDL tersebut, menurut dia, beban subsidi akan berkurang Rp 9,5 triliun. Pada 2012 ini subsidi listrik dialokasikan sebesar Rp 40,5 triliun.
Sementara itu, dari Konferensi Pers High Level Meeting Forum Koordinasi Pengendali Inflasi (FKPI) di Bandung, Pemimpin Bank Indonesia (BI) Bandung, Lucky Fathul Aziz Hadibrata, mengatakan, pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi akan menyumbang inflasi 0,4%-0,6%. Sementara kenaikan tarif dasar listrik (TDL) akan menyumbang inflasi sebesar 0,3%. “Ini baru dari sisi kenaikan biaya transportasi,” tuturnya.
Walaupun kenaikan komoditas energi tersebut belum pasti diberlakukan, namun menurut Lucky sudah bisa diperhitungkan dampaknya yang cukup besar bagi masyarakat, termasuk bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Belum lagi dengan adanya tantangan lain pada 2012, seperti ketidakpastian harga pangan di pasar global, ketersediaan beras pada awal tahun, dll,” katanya.
Kendati demikian, menurut dia, FKPI Jabar sudah menyusun sejumlah kebijakan untuk menekan dampak dari seluruh tantangan tersebut. Ditargetkan, pada 2012 inflasi Jabar sebesar 4,5% plus minus 1%. Pada akhir 2011 inflasi Jabar sebesar 3,1%, di bawang angka nasional yang mencapai 3,79%.
Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution memperkirakan, secara nasional kebijakan pembatasan BBM subsidi pada April mendatang akan menyumbang inflasi sekitar 0,72%-0,94%.
Dengan tambahan inflasi tersebut, BI memperkirakan laju inflasi selama 2012 akan mencapai 5,22%-5,44% atau masih dalam kisaran yang diperkirakan BI, 3,5%-5,5%.
Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi menilai, dampak langsung dan tidak langsung dari pembebasan konsumsi BBM subsidi akan menymbang inflasi lebih dari 2%. “Inflasi akhir tahun ini bisa sampai 8%. Ini bahaya untuk aktivitas perekonomian,” katanya. (A-150/A-89)***

Sumber :
http://www.pikiran-rakyat.com/node/173725

Tidak ada komentar:

Posting Komentar